Home / Berita / BBKSDA dan YTNTN Taja Pelatihan BMP Konservasi Gajah
IMG_0035

BBKSDA dan YTNTN Taja Pelatihan BMP Konservasi Gajah

PEKANBARU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) mendorong perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar TNTN dan GSK-Balai Raja menerapkan Better Management Practices(BMP) gajah Sumatera. Untuk itu, perusahaan-perusahaan tersebut akan diberi pelatihan BMP Gajah Sumatera di Provinsi Riau selama empat hari di Hotel Pesona Pekanbaru. Kegiatan yang dimulai pada Selasa (24/7/2018), diharapkan bisa menghasilkan perlindungan, pengayaan koridor dan populasi gajah serta mitigasi konflik gajah.

Direktur Eksekutif YTNTN, Yuliantony, Senin (23/7/2018), di kantor YTNTN Jl. Kelapa Gading, Pekanbaru menjelaskan, lebih dari 20 peserta dari unsur perusahaan dan pemerintah akan mengikuti pelatihan BMP Gajah Sumatera di Provinsi Riau tersebut. “Peserta pelatihan berasal dari unsur perusahaan pemegang izin HTI dan HGU, pemerintah daerah, BBKSDA Riau, BTNTN, Dishut Provinsi Riau dan KPH. Mereka akan mengikuti dua sesi pelatihan, yaitu penyampaian materi dan sesi lapangan.”

Pada sesi penyampaian materi, lanjut Yuliantony, akan dihadirkan narasumber yang mempunyai kompetensi, pengalaman dan pengetahuan terkait habitat dan konservasi gajah. Sedangkan pada kegiatan praktik lapangan, peserta akan mengunjungi salah satu perusahaan yang beroperasi di sekitar kantong gajah yang telah melakukan usaha konservasi gajah.

Menurut Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, pentingnya pelatihan BMP Gajah Sumatera dilakukan, lantaran kondisi gajah di Riau mulai berada pada titik kritis. Program tanggap darurat (emergency response) yang cepat, akurat, menyeluruh, terintegrasi dan inovatif perlu segera dimulai. Intervensi seperti ini sangat penting melibatkan dan didukungan berbagai pihak kunci.

“Beberapa perkembangan terkait kebijakan dan kesempatan, seperti komitmen terhadap sustainability yang semakin tinggi dari sektor swasta serta perkembangan teknologi terkini akan dimanfaatkan secara maksimal untuk menghadapi tantangan menyelesaikan permasalahan. Tanpa itu, kesempatan untuk intervensi akan hilang dan kita akan kehilangan gajah Sumatera atau paling tidak kepunahan lokal spesies kunci di Riau,” jelas Suharyono.

Pemerintah telah menetapkan target-target yang lebih spesifik untuk peningkatan populasi dan pengelolaan habitat satwa prioritas, termasuk gajah Sumatera. Hal ini telah tertuang baik dalam komitmen global dan kebijakan di tingkat nasional yang tersusun dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) untuk gajah yang dijabarkan dan dioperasionalkan pada Rencana Strategis Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Terkait pengelolaan habitat atau kawasan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga telah menargetkan terbentuknya unit-unik khusus pengelolaan kawasan hutan agar dapat lebih berfungsi maksimal melalui skema KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan), salah satunya adalah KPHK Rimbang Baling yang kini tengah dalam proses penetapan.

Ditambahkan Yuliantoni, sektor swasta juga telah melakukan perbaikan praktik pengelolaan di wilayah konsesinya. Lebih jauh, WWF bersama YTNTN akan melakukan kegiatan pendampingan terhadap pemegang izin HTI dan HGU di sekitar kawasan kantong-kantong gajah.

“Hasil dari pelatihan ini nanti, minimal ada 6 perusahaan yang bersedia melakukan penerapan BMP konservasi gajah dalam bentuk perlindungan, pengayaan koridor dan populasi gajah serta mitigasi konflik gajah Sumatera di Provinsi Riau. Dan kegiatan ini sepenuhnya disupport oleh TFCA Sumatera,” tandas Yuliantony. (ytntn)

Check Also

Dengan bantuan meriam karbit, tim ARQRU menghalau gajah ke dalam kawasan TNTN. Foto YTNTN

ARQRU Siap Bantu Mitigasi Konflik Satwa di Riau

PEKANBARU – Animal Rescue Quick Response Unit (ARQRU) salah satu unit yang dimiliki Yayasan Taman …