Home / Berita / BBKSDA Siapkan 8 Ribu Ha Untuk 9 Ribu KK di TNTN
Kepala BBKSDA Riau, Mahfuds menyampaikan pemaparan tentang strategi perlindungan dan pemulihan kawasan TNTN pada Seminar Kehutanan, Rabu (8/11/2017) di Hotel Pangeran, Pekanbaru.
Kepala BBKSDA Riau, Mahfuds menyampaikan pemaparan tentang strategi perlindungan dan pemulihan kawasan TNTN pada Seminar Kehutanan, Rabu (8/11/2017) di Hotel Pangeran, Pekanbaru.

BBKSDA Siapkan 8 Ribu Ha Untuk 9 Ribu KK di TNTN

PEKANBARU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau telah mempersiapkan lahan seluas 8000 hektare (ha) untuk Perhutanan Sosial (PS) di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Masyarakat yang akan menerima manfaat dari PS tersebut sekitar 9000 Kepala Keluarga (KK) yang didata berdasarkan mekanisme yang sudah ditetapkan.

Penegasan itu disampaikan Kepala BBKSDA Provinsi Riau, Mahfuds pada Seminar Kehutanan yang ditaja Jikalahari, Rabu (8/11/2017) di Hotel Pangeran Pekanbaru. “Salah satu strategi yang kita lakukan untuk perlindungan dan pemulihan kawasan adalah dengan menerapkan perhutanan sosial. Kita sudah mempersiapkan 8000 ha untuk 9000 KK di kawasan TNTN. Bila upaya ini berhasil, TNTN akan menjadi contoh bagi kawasan konservasi lain di Indonesia,” kata Mahfuds.

Lahan yang disiapkan untuk PS tersebut, lanjut Mahfuds, adalah lahan eks HPH milik dua perusahaan yang pernah mendapat izin di Tesso Nilo, yaitu Nanjak Makmur dan Inhutani IV. Lahan tersebut nantinya akan ditanam dengan tanaman asli yang mempunyai manfaat ekonomi tinggi bagi masyarakat.

“Cara-cara perlindungan lainnya adalah dengan model kemitraan dengan masyarakat. Diantaranya dengan mendorong ekowisata, pendampingan masyarakat dan rehabilitasi. Pendampingan masyarakat yang dilakukan adalah budidaya lebah madu. Kini produksi madu masyarakat sudah dipasarkan ke luar daerah, bahkan hingga ke Malaysia,” terang Kepala BBKSDA.

Selain itu, upaya penegakan hukum juga terus dilakukan. Untuk mencegah adanya perambahan baru, sudah dilakukan patroli-patroli rutin. Selain itu juga dilakukan pemetaan pengguna lahan di TNTN, ekspedisi Tesso Nilo dengan aparatur penegak hukum dan masyarakat serta pembentukan mitra Polhut.

“Hasil tangkapan berupa alat-alat berat kini menumpuk di halaman belakang kantor BBKSDA,” tandas Mahfuds.

Selain Kepala BBKSDA, Deputi Pencegahan KPK, Niken, juga menjadi pembicara dalam seminar tersebut. Menurutnya, sumber korupsi terbesar saat ini ada pada pengadaan barang dan jasa, pemberian izin dan proses rekrutmen pegawai.

“Korupsi sumber daya alam juga besar. Luas perkebunan terus bertambah, hasil sawit terus meningkat namun pendapatan negara dari sektor tersebut cenderung stagnan bahkan menurun,” jelas Niken.

Pencegahan korupsi di sektor kehutanan atau sumber daya alam terus dilakukan. Diantaranya dengan memberlakukan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan yang baru saja dikeluarkan. *

Check Also

Direktur Eksekutif YTNTN, Yuliantoni dan Kepala BTNTN, Supartono berjabatan tangan usai penandatanganan dokumen kerjasama, Kamis (12/10/2017). (Foto YTNTN)

YTNTN Tandatangani Kerjasama dengan BTNTN

PELALAWAN – Dokumen kerjasama antara Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) dengan Balai Taman Nasional …