Home / Berita / Kisah Dita, Gajah Korban Jerat Babi (Bagian 1)
Proses pengobatan gajah Dita oleh tim dokter setelah berhasil melakukan pembiusan. (Foto YTNTN)
Proses pengobatan gajah Dita oleh tim dokter setelah berhasil melakukan pembiusan. (Foto YTNTN)

Kisah Dita, Gajah Korban Jerat Babi (Bagian 1)

Bara Bantu Dita Keluar dari Kubangan

Dia dipanggil Dita oleh para penggiat lingkungan. Usianya sekitar 30 tahun. Tubuhnya kurus dan bergerak sangat pelan dengan kaki bagian depan pincang. Sering terlihat muncul di Hutan Talang dan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Duri.

Dita adalah gajah liar yang pernah cedera lantaran jerat babi yang dipasang orang-orang tidak bertanggung jawab pada tahun 2014 lalu. Kaki kanan bagian depannya terluka cukup parah, membuat Dita kesulitan mengikuti pergerakan kelompoknya. Gajah betina ini sempat diobati dua kali, di tahun 2014 dan tahun 2016. Namun ternyata, kondisinya hingga kini belum membaik.

Pada pertengahan Oktober lalu, tim patroli satwa Himpunan Penggiat Alam (Hipam) yang tergabung dalam konsorsium YTNTN dan didanai TFCA Spesies kembali menemukan Dita dengan kondisi yang memprihatinkan. Dia hanya ditemani dua ekor gajah lainnya, Seruni (35 tahun) dan Bara (10 tahun). Kakinya yang terluka terlihat membengkak dan menganggu gerakannya. Bara bahkan sesekali mendorong Dita untuk membantunya berjalan.

Dita (
Dita (kiri) bersama Bara (tengah) dan Seruni (kanan). (Foto YTNTN)

“Bara juga pernah terlihat mendorong Dita untuk keluar dari kubangan di parit gajah yang ada di pinggir SM Balai Raja. Tanpa bantuan Bara, Dita sulit untuk keluar dari kubangan tersebut,” kata Direktur Eksekutif YTNTN Yuliantony saat menceritakan kronologis pengobatan Dita, belum lama ini.

Mengetahui kondisi Dita yang lemah, YTNTN yang mendapat laporan tersebut segera berkomunikasi dengan pemegang otoritas, yaitu Balai Besar Sonservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Akhirnya, kolaborasi BBKSDA Riau, YTNTN, Vesswick, WWF dan HIPAM serta RSF sepakat untuk kembali melakukan pengobatan terhadap gajah Dita. Pengobatan dilakukan setelah ada konfirmasi kedatangan dokter hewan dari Vesswick pada hari Senin, 16 Oktober 2017.

“Selama proses menunggu tersebut, Tim Patroli Hipam dan WWF terus memantau pergerakkan Dita, Seruni dan Bara. Bantuan awal yang dilakukan kepada Dita adalah pemberian asupan makanan tambahan (extra fooding) guna meningkatkan stamina Dita. Dengan campuran beberapa mineral dan bahan makanan lainnya, drh Wanda bersama Hipam meracik fooding gajah dan memberikannya kepada Dita. Untuk memancing Dita keluar dari dalam hutan, ditebarkan buah-buah beraoma khas seperti cempedak, pepaya dan semangka,” terang Tony.

“Makanan tambahan yang kita berikan hampir setiap hari, alhamdulillah dimakan oleh Dita. Makanan tersebut penting untuk membantu tubuh Dita yang lemah,” kata drh Wanda yang terlibat langsung dalam proses pemberian makanan tambahan dan pengobatan Dita.

Dari sejumlah pihak yang terlibat, masing-masing berbagi peran sesuai kapasitas masing-masing untuk memperlancar proses pengobatan Dita. Ada pihak yang bertindak untuk mengidentifikasi identifikasi (anggota patroli), melakukan pembiusan (mahout), mengamankan Dita, pembawa perlengkapan dan serta tim medis (dokter hewan).

Pada hari pengobatan yang sudah disepakati, Senin, 16 Oktober 2017, ternyata pengobatan gagal dilakukan karena gajah jinak yang akan membantu melakukan pembiusan terhadap Dita belum tiba di lokasi. Pengobatan baru bisa dilakukan keesokan harinya. Upaya yang dilakukan tim pengobatan sejak pukul 08.00 Wib, baru bisa dilakukan pukul 15.00 Wib.

“Proses pembiusan cukup lama. Hingga 7 kali pembiusan, gajah Dita baru bisa dilumpuhkan dan selanjutnya diobati oleh tim dokter yang terdiri dari drh Anhar Lubis dari Vesswik, drh Rini dari BBKSDA Riau dan drh Wanda dari WWF,” lanjut Tony.

Selain membersihkan luka dan memberi antibiotik, dokter juga mengambil sampel darah Dita untuk diperiksa lebih lanjut. Dokter mencurigai ada faktor penyebab yang berasal dari dalam tubuh Dita yang membuat luka di kakinya tidak kunjung sembuh sejak tahun 2014.

Benar saja, dari pemeriksaan darah tersebut, dokter menemukan ada penyakit anemia, cangingan dan kelainan pada darah di tubuh Dita. “Faktor itulah yang menyebabkan Dita lemah dan tubuhnya kurus,” jelas Tony.

Pengobatan Dita pun selesai pada pukul 18.00 Wib. Sebelum ditinggal, dokter memastikan Dita siuman dengan memberikan obat penawarnya.

“Untuk memantau kondisi Dita, tim patroli terus melakukan patroli dan melaporkan perkembangan kesehatan Dita. Namun sayangnya, sejak usai pengobatan, Dita jarang terlihat di SM Balai Raja. (ytntn)

Check Also

Direktur Eksekutif YTNTN, Yuliantoni dan Kepala BTNTN, Supartono berjabatan tangan usai penandatanganan dokumen kerjasama, Kamis (12/10/2017). (Foto YTNTN)

YTNTN Tandatangani Kerjasama dengan BTNTN

PELALAWAN – Dokumen kerjasama antara Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) dengan Balai Taman Nasional …