Home / Berita / Kisah Dita, Gajah Korban Jerat Babi (Bagian II)
Dita sedang diobati oleh tim dokter. Posisi Dita saat diobati berbeda dengan sebelumnya. Penanganannya juga lebih mudah. (Foto YTNTN)
Dita sedang diobati oleh tim dokter. Posisi Dita saat diobati berbeda dengan sebelumnya. Penanganannya juga lebih mudah. (Foto YTNTN)

Kisah Dita, Gajah Korban Jerat Babi (Bagian II)

Dita Serahkan Bokongnya Untuk Dibius

 

Setelah pengobatan pertama di pertengahan Oktober 2017, tim patroli yang biasa memantau keberadaan Dita diminta untuk terus memonitor kondisi dan keberadaan Dita di SM Balai Raja. Karena dua hari kemudian akan ada pengobatan lanjutan.

Namun rencana tidak berjalan baik, tim patroli Hipam dan WWF kehilangan jejak Dita. Selang dua hari setelah pengobatan, Tim YTNTN yang sudah pulang ke Pekanbaru,kembali ke Balai Raja untuk membantu melacak keberadaan Dita. Dari tanda-tanda yang dilihat, sepertinya gajah Dita sudah bergerak ke arah Giam Siak Kecil (GSK). Informasi tersebut lalu disampaikan kepada drh Anhar. Lantaran belum ada informasi dimana Dita, akhirnya tim dokter kembali ke Medan sambil menunggu Dita ditemukan.

Kerja keras tim patroli Hipam tidak sia-sia, pada tangal 24 Oktober 2017, Dita ditemuakan. Gajah betina tersebut ternyata masih berada di sekitar lokasi pengobatan di Hutan Talang. Kondisinya masih lemah. YTNTN segera berkoordinasi dengan BBKSDA untuk menentukan langkah yang harus diambil terhadap Dita. Langkah yang disepakati adalah kembali melakukan pengobatan. Sementara menunggu kedatangan tim dokter, maka Dita diberikan fooding dan buah. Pengobatan akhirnya baru dilakukan pada tanggal 08 November 2017.

Bila dipengobatan pertama ada kesulitan untuk melakukan pembiusan, di pengobatan kedua justru sebaliknya. Dita seolah rela untuk diobati. Dia mengarahkan bokongnya ke tim dokter sehingga memudahkan dalam proses pembiusan.

“Hal yang membuat kami takjub, Dita seperti sengaja menghadapkan bokongnya ke tim dokter. Itu sangat memudahkan dokter untuk melakukan pembiusan. Dalam pengobatan sebelumnya, kami sangat kesulitan untuk membiusnya,” kata Yuliantony yang selalu terlibat dan menyaksikan langsung setiap prose pengobatan.

Sama seperti pengobatan pertama, tim tetap berbagi peran, ada yang mempersiapkan peralatan, ada yang membius dan ada yang mengobati. Pengobatan dilakukan hingga malam hari dengan lancar. Sebelum petugas medis meninggalkan, Dita dipastikan sudah siuman dan berjalan.

Setelah pengobatan kedua, tim patroli tetap memantau perkembangan kesehatan Dita dan keberadaan kelompoknya. Bara dan Seruni terus diupayakan tetap ada di samping Dita untuk menghindari terjadinya disorientasi. (ytntn)

Check Also

Penanaman dilakukan oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Mereka juga yang akan memantau tanaman tersebut hingga tumbuh dengan baik. (Foto YTNTN)

Pengayaan Habitat di Koridor Gajah

PEKANBARU – Guna menjaga agar gajah tetap berada di dalam kawasan Taman Nasional tesso Nilo …