Home / Berita / Menapaki Jejak Patroli Masyarakat di Batang Nilo
Aktivitas di hari kedua para peserta Journalist Touring adalah melihat hutan rambahan. Dengan menggunakan pompong bertenaga mesin, perjalanan ke lokasi rambahan ditempuh sekitar satu jam lebih. (Foto Wina)
Aktivitas di hari kedua para peserta Journalist Touring adalah melihat hutan rambahan. Dengan menggunakan pompong bertenaga mesin, perjalanan ke lokasi rambahan ditempuh sekitar satu jam lebih. (Foto Wina)

Menapaki Jejak Patroli Masyarakat di Batang Nilo

PAGIitu, Kamis (21/12/2017) sekitar pukul 08.00 Wib, peserta Journalist Touring yang difasilitasi oleh Pundi Sumatera bersiap-siap menuju Batang (sungai) Nilo di Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Mereka hendak melihat lokasi rambahan yang sudah ditinggalkan para perambah dua tahun lalu. Tempatnya di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), persis di pinggir Batang Nilo.

Cuaca sangat cerah dan bersahabat saat tiba di dermaga kecil buatan masyarakat setempat. Di situ tampak sejumlah pompong ditambatkan. Satu dari sekian banyak pompong itu akan membawa peserta ke dalam kawasan TNTN. Namun ternyata satu pompong yang dipesan tersebut tidak mampu mengangkut sekitar 15 orang yang akan ikut. Tidak hanya 7 orang jurnalis, ada beberapa staf pendamping dari dua lembaga serta anggota tim patroli satwa masyarakat. Alhasil dibutuhkan satu pompong bertenaga mesin lagi untuk mengakut peserta touring. Peserta yang awalnya sudah naik ke atas pompong, akhirnya harus turun sebagian untuk pindah ke pompong kedua.

Menuju ke lokasi yang dimaksud membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih dengan kecepatan sedang. Tidak ada hambatan selama perjalanan meski sungai dalam kondisi pasang karena habis diguyur hujan tadi malam. Keadaan itu justru cukup menguntungkan, karena Batang Nilo adalah sungai yang relatif dangkal dan berpasir. Bila sedang surut, pasir sungai di pinggir akan terlihat muncul ke permukaan.

Batang Nilo adalah salah satu dari dua sungai terbesar yang ada di dalam kawasan TNTN yang kemudian namanya dijadikan sebagai nama kawasan taman nasional, Tesso Nilo. Sungai Tesso sendiri berada di wilayah Kampar Kiri yang juga bermuara ke Sungai Kampar. Menurut penduduk setempat, sesekali masih ada buaya muncul di Batang Nilo. Namun dalam perjalanan hari itu, sosok penjaga sungai tersebut tidak menampakkan dirinya.

Selama menyusuri Batang Nilo, peserta disuguhi pemandangan hutan semak belukar dengan pohon-pohon berdiameter kecil dan sedang serta perkebunan sawit milik masyarakat. Beberapa batang sialang masih tampak terlihat di sisi kanan dan kiri sungai. Namun tak terdengar ada suara simpony alam dari satwa-satwa di dalam taman nasional. Padahal tercatat ada 114 jenis burung dari 28 famili di kawasan Tesso Nilo.

“Kawasan TNTN ini adalah hutan sekunder, bekas konsesi dua perusahaan, PT Nanjak Makmur dan PT Inhutani IV yang izinnya sudah dicabut. Karena itulah pohon-pohon dan belukar di dalam kawasan ini tidak berdiameter besar. Hutan alamnya pernah ditebang untuk kemudian lahannya dikelola perusahaan,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN), Yuliantony yang ikut mendampingi peserta, Kamis (21/12/2017).

Namun begitu, perjalanan di alam tetap terasa mengasyikan. Batang Nilo yang cukup lebar serta cuaca yang cerah membuat perjalanan lempeng tanpa hambatan. Kurang dari satu jam berjalan, pandangan tertambat pada sebuah shalter yang dibangun oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN) yang sudah ditumbuhi semak belukar. Bahkan papan larangan dan pemberitahuan bahwa wilayah tersebut adalah wilayah konservasi gajah Sumatera yang dipasang juga sudah hampir tidak tampak lantaran tertutup pepohonan.

Menurut Yuliantony, tempat tersebut dibangun sebagai tempat beristirahat orang-orang yang melintas di Batang Nilo, baik itu masyarakat tempatan atau petugas yang sedang menyusuri Batang Nilo. Pondoknya dibangun cukup apik terbuat dari kayu dan berada tidak jauh dari pinggir sungai. Bila tempatnya terawat, itu bisa menjadi tempat persinggahan untuk beristirahat dan menikmati alam Tesso Nilo.

“Ini lantaran jarang dikunjungi sehingga kondisinya menjadi tidak terawat begini,” gumam salah seorang peserta tour.

Tidak begitu jauh dari shalter tersebut, pemilik pompong tiba-tiba mematikan mesin dan merapat ke pinggir sungai. Rupanya rombongan sudah sampai ke tempat yang akan dituju. Dipandu oleh dua orang petugas patroli masyarakat, Hamencol dan Kamal, peserta masuk beberapa puluh meter ke dalam hutan. Hamencol ingin menunjukkan lokasi yang pernah dirambah dua tahun lalu. Meskipun kondisinya sudah menjadi semak dan hutan kembali, masih ditemui kayu-kayu pohon yang malang melintang di jalur yang kami tapaki. Bahkan ada pohon yang belum sempat tumbang namun sudah ditebang.

Hamencol dan Yuliantony memperlihatkan salah satu pohon yang akan dicuri para perambah dari hutan TNTN. (Foto: Wina)
Hamencol dan Yuliantony memperlihatkan salah satu pohon yang akan dicuri para perambah dari hutan TNTN. (Foto: Wina)

“Para perambah itu lari dan tidak berani kembali setelah kami berpatroli di lokasi ini. Setiap temuan yang kami dapat selama patroli, kami laporkan ke instansi-instansi terkait, baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun kementerian,” kata Hamencol yang juga tokoh Ninik Mamak di Desa Lubuk Kembang Bunga.

Informasi yang diberikan tersebut, lanjut Hamencol, direspon positif oleh para pihak. Tidak ada birokrasi bagi mereka untuk melaporkan setiap temuan-temuan di lapangan.

Melakukan patroli sudah menjadi aktivitas rutin Hamencol dan beberapa warga masyarakat LKB lainnya. Medan yang relatif sulit dengan fasilitas yang terbatas, tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berpatroli keluar masuk hutan lebih kurang 15 kali dalam satu bulan. Pekerjaaan itu bagi Hamencol dan kawan-kawan tidak menjadi berat lantaran di dalam diri sudah tertanam rasa cinta dan kesadaraan akan pentingnya melestarikan hutan.

“Hutan adalah marwah kita,” katanya.

Perambahan merupakan salah satu ancaman bagi kelangsungan dan kelestarian kawasan TNTN. Topografi TNTN yang relatif datar dan sedikit bergelombang membuat orang mudah masuk ke dalam kawasan untuk membuka kebun. Disamping itu, konflik antara satwa dan manusia juga menjadi persoalan serius di TNTN. Ruang hidupnya yang terbatas, menyebabkan satwa masuk ke perkampungan dan perkebunan masyarakat.

Oleh sebab itu penyelamatan hutan tersisa di kawasan sangat penting dilakukan. Tugas dan tanggung jawab menjaganya bukan tugas pemilik otoritas semata, tetapi juga masyarakat dan penggiat lingkungan di Riau.

“Untuk menjaga kawasan TNTN dari berbagai ancaman, patroli di dalam kawasan sangat penting dilakukan terus menerus. Tidak hanya oleh otoritas terkait, tetapi juga oleh masyarakat dan lembaga pendamping di Riau,” kata Kasi Pengelolaan Wilayah I TNTN Taufiq Haryadi saat ditemui di Kantor BTNTN, pengkalan Kerinci, Pelalawan, 20 Desember 2017.

Luas hutan tersisa di TNTN saat ini sekitar 20 ribu hektare (ha) dari luas yang ditetapkan 81.793 ha berdasarkan SK Penetapan No.6588/Menhut-VII/KUH/2014. Keutuhannya harus tetap dijaga untuk konservasi hewan dilindungi, seperti gajah Sumatera. Saat ini, TNTN masih menjadi salah satu dari delapan kantong gajah di Riau.

Peserta Journalist Touring berada di lokasi bekas rambahan tersebut tidak lama, lebih kurang 20 menit. Setelah melihat dan mengambil gambar, rombongan kembali menuju pompong. Hajat untuk melihat hutan bekas rambahan dan menapaki jejak para tim patroli di TNTN sudah ditunaikan.

Perjalanan pulang kembali ke Desa LKB terasa lebih cepat dibandingkan saat berangkat, meskipun jarak tempuh dan kecepatan pompong sama. Sebelum jam makan siang, peserta sudah sampai di tepi dermaga untuk melanjutkan aktivitas lain yang diagendakan dalam kegiatan dua hari di TNTN yang didukung oleh TFCA Sumatera. (wdu)

Check Also

Penanaman dilakukan oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Mereka juga yang akan memantau tanaman tersebut hingga tumbuh dengan baik. (Foto YTNTN)

Pengayaan Habitat di Koridor Gajah

PEKANBARU – Guna menjaga agar gajah tetap berada di dalam kawasan Taman Nasional tesso Nilo …